Ketika semua orang mengatakan bahwa waktu
akan membuatmu terbiasa, tapi kamu tak pernah
berhasil menjadi biasa.
Ketika yang ada didepan mata begitu
mengagumkan, tapi masih tak cukup membuatmu
merasa nyaman.
Ketika rindu datang menyapa, namun bibir tak
mampu mengungkapkannya.
Ketika gengsi begitu menguasai, mungkin tulisan
ini bisa mewakili.
Ada yang mudah mengungkapkan. Ada yang
terlalu dikuasai oleh gengsi.
Jika saya menyebut rindu, apa yang akan kamu
bayangkan? Pacar yang berada ratusan
kilometer? Sahabat yang mulai sibuk dengan
tugasnya masing-masing? Atau justru orangtua,
yang selalu menjadi pengingat terbaik dibaik
pembawaannya yang cuek?
Seberapa sering kamu merindukan seseorang? Ah
ganti saja pertanyaanya, seberapa sering kamu
mengungkapkan rindumu pada orang yang kau
sayang?
Terkadang saya merasa bahwa hidup ini
merupakan praktik langsung dari beberapa cerita
yang saya baca, banyak yang rindu setengah
mati tapi hanya diam dikalahkan gengsi.
Seorang perantau harus memaksa dirinya untuk
nyaman di tempat persinggahan.
Berusaha memahami bahasa yang begitu asing.
Berusaha menikmati masakan manis yang tidak
cocok dengan lidahnya.
Berusaha membiasakan diri dengan 'pemandangan'
yang tak pernah dilihat di kampung halaman.
Ketika rindu datang, obatnya hanya pulang.
Tempat ini mungkin memiliki semua hal yang
tidak ada di kotamu, hanya saja ada satu yang
tidak ada dan itu adalah hal yang paling
fatal; orangtua.
Tidak ada ibu yang rajin mengomel ketika kamu
mengabaikan jadwal tidur.
Tidak ada ayah yang marah ketika kamu keluar
malam.
Ketika rindu datang mengganggu, yang perlu
kau lakukan hanya menunggu.
Jangan lupa, pulang selalu menjadi bonus
terindah setelah kelelahan mengerjakan soal
ujian.
Rindu selalu punya jalan pulang dan kamu
hanya perlu menunggu sebentar lagi. Hanya
empat bulan lagi lalu kamu bebas memeluk
mereka sampai kamu kembali merasa nyaman.
Hanya sebentar lagi untuk mencium punggung
tangan mereka ketika berpamitan pergi.
Ohya, selama kamu di tanah rantau belajarlah
memperhatikan dirimu sendiri. Jangan biarkan
rindu melemahkan fisikmu.
Ingat, kalau kamu sakit, kamu hanya akan
mengubur keinginanmu untuk pulang!
NB: Rindu tak perlu di ungkapkan secara
langsung, justru harus sekuat tenaga di redam
dan disembuhkan.
Ungkapan rindu tidak menyelesaikan apapun,
hanya membantu memperparah keadaan.
Rindu yang tidak diungkapkan pun namanya
tetap saja rindu, dan rindu selalu punya jalan
pulang -eh salah- rindu selalu mampu
membawamu pulang.
**
Saya menulis ini untuk menyiksa diri saya
sendiri, untuk menceritakan yang tak pernah
berhasil saya katakan. Untuk mengingatkan
bahwa orang yang tak pernah mengatakan rindu
adalah orang yang paling gila karena tersiksa
dengan rasa rindunya sendiri -yang tak berani di
bagi-.
akan membuatmu terbiasa, tapi kamu tak pernah
berhasil menjadi biasa.
Ketika yang ada didepan mata begitu
mengagumkan, tapi masih tak cukup membuatmu
merasa nyaman.
Ketika rindu datang menyapa, namun bibir tak
mampu mengungkapkannya.
Ketika gengsi begitu menguasai, mungkin tulisan
ini bisa mewakili.
Ada yang mudah mengungkapkan. Ada yang
terlalu dikuasai oleh gengsi.
Jika saya menyebut rindu, apa yang akan kamu
bayangkan? Pacar yang berada ratusan
kilometer? Sahabat yang mulai sibuk dengan
tugasnya masing-masing? Atau justru orangtua,
yang selalu menjadi pengingat terbaik dibaik
pembawaannya yang cuek?
Seberapa sering kamu merindukan seseorang? Ah
ganti saja pertanyaanya, seberapa sering kamu
mengungkapkan rindumu pada orang yang kau
sayang?
Terkadang saya merasa bahwa hidup ini
merupakan praktik langsung dari beberapa cerita
yang saya baca, banyak yang rindu setengah
mati tapi hanya diam dikalahkan gengsi.
Seorang perantau harus memaksa dirinya untuk
nyaman di tempat persinggahan.
Berusaha memahami bahasa yang begitu asing.
Berusaha menikmati masakan manis yang tidak
cocok dengan lidahnya.
Berusaha membiasakan diri dengan 'pemandangan'
yang tak pernah dilihat di kampung halaman.
Ketika rindu datang, obatnya hanya pulang.
Tempat ini mungkin memiliki semua hal yang
tidak ada di kotamu, hanya saja ada satu yang
tidak ada dan itu adalah hal yang paling
fatal; orangtua.
Tidak ada ibu yang rajin mengomel ketika kamu
mengabaikan jadwal tidur.
Tidak ada ayah yang marah ketika kamu keluar
malam.
Ketika rindu datang mengganggu, yang perlu
kau lakukan hanya menunggu.
Jangan lupa, pulang selalu menjadi bonus
terindah setelah kelelahan mengerjakan soal
ujian.
Rindu selalu punya jalan pulang dan kamu
hanya perlu menunggu sebentar lagi. Hanya
empat bulan lagi lalu kamu bebas memeluk
mereka sampai kamu kembali merasa nyaman.
Hanya sebentar lagi untuk mencium punggung
tangan mereka ketika berpamitan pergi.
Ohya, selama kamu di tanah rantau belajarlah
memperhatikan dirimu sendiri. Jangan biarkan
rindu melemahkan fisikmu.
Ingat, kalau kamu sakit, kamu hanya akan
mengubur keinginanmu untuk pulang!
NB: Rindu tak perlu di ungkapkan secara
langsung, justru harus sekuat tenaga di redam
dan disembuhkan.
Ungkapan rindu tidak menyelesaikan apapun,
hanya membantu memperparah keadaan.
Rindu yang tidak diungkapkan pun namanya
tetap saja rindu, dan rindu selalu punya jalan
pulang -eh salah- rindu selalu mampu
membawamu pulang.
**
Saya menulis ini untuk menyiksa diri saya
sendiri, untuk menceritakan yang tak pernah
berhasil saya katakan. Untuk mengingatkan
bahwa orang yang tak pernah mengatakan rindu
adalah orang yang paling gila karena tersiksa
dengan rasa rindunya sendiri -yang tak berani di
bagi-.

0 komentar:
Posting Komentar